Tauziah:Kesenangan Dunia by Ust.Edi Chandra 20130120

Tauziah: 20130120 EdiC Kesenangan Dunia (Audio Download)

Comments: Leave a Comment

Tauziah: Beriman kpd Hari Akhir oleh Ust. Edi Chandra 20140223

Beriman kpd Hari Akhir   (Audio Download)

Bgmn seorang muslim bisa beriman kpd hari akhir ?

Dimulai, bgmn Beriman kpd Allah….
Beriman kpd Allah, dpt saja mengimani ciptaanNya.
Darimanapun kita belajar, lalu seterusnya dikaji secara detail.
Diketahuilah komponen sesuatu terkecil….
Apakah sesuatu itu memiliki kehendak atas dirinya sendiri….???

Ilmu al Yakin (100%)
Ilmu dzanniyat (< 100%)
Berita mutawatir, berita yg disampaikan banyak orang, hal ini dpt mencapai pd tingkatan al Yakin.

Bgmna mengimani hari akhir? Padahal org yg pernah mengalami tdk pernah memberi keterangan. Bgmn kita mengujinya, hingga keyakinan al Yakin. Adlah menguji dr siapa hal itu yg memberitakan, dimana beritu itu dikabarkan, dst.

Bgmna kita meyakini sesuatu, padahal tdk dpt merasakan.
Ujilah alQuran, shg kita beriman sampai ke derajat mutawatir dan al Yakin.

Comments: Leave a Comment

Tauziah: Gambaran Neraka menurut alQuran dan Hadist by Ust. Idrus Abidin

Gambaran Neraka menurut alQuran dan Hadist (Video Display)

Comments: Leave a Comment

Tauziah: Gambaran Syurga menurut al Quran dan Sunnah by Ust. Idrus Abidin

Gambaran Syurga menurut al Quran dan Hadist (Video Display)

Comments: Leave a Comment

Tauziah: Hal-hal yang Menyelamatkan dr Azab Kubur by Ust. Idrus Abidin

 

Comments: Leave a Comment

Hal-hal Ghoib yg Sering dilupakan

Liqo 2013-06-08 – Hal hal Ghoib yg sering dilupakan

Comments: Leave a Comment

Membangun Keluarga Cinta alQuran

Category: Aqidah

Ustadz: Mutammim alUla

Summarized by: Joko SP

Masjid Baitussalaam, Bogor, 29 Jan 2011

3 Pertanyaan Kunci:

  1. Apa pentingnya orang tua memiliki ketrampilan, mendidik anak menjadi keturunan yang sholeh
  2. Apa yang disebut mencintai alQuran
  3. Peranan apa yang bisa dilakukan oleh oleh orang tua

 

I.            Apa pentingnya ….(Parenting Skill)

  1. Sebagian orang beranggapan bahwa pendidikan anak adalah urusannya sekolah, padahal sebetulnya tidak, orang tua tetap harus bertanggung jawab.
  2. 3 pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan anak:
    1. Yang terpenting adalah orang tua
    2. Sedangkan Sekolah adalah membantu peran orang tua
    3. 4 Pilar keluarga dalam hal pendidikan:
      1. Hubungan suami-istri yang hangat
      2. Ekonomi keluarga yang sustainable
      3. Pendidikan anak (parenting skill)
      4. Hubungan keluarga besar
      5. Dalam membangun berkeluarga, tentunya tidak sekedar menjaga keutuhan keluarga, tetapi bagaimana menjadi keluarga yang unggul (dalam Iman dan Amal Sholeh). Sebagai contoh telah diabadikan dalam alQuran yaitu keluarga besar Ali Imron. Bahkan keluarga besar Ali Imron ini disejajarkan dengan para Nabi (QS 3:33-34). “Sesungguhnya Allah, memilih manusia, nabi Adam, nabi Nuh, nabi Ibrohim, dan keluarga besar Imron, melebihi segala ummat”.
      6. Ciri keluarga yang mulia:
        1. a. Meninggalkan anak-anak yang sholeh
        2. Sodakoh
        3. Meninggalkan ilmu yang bermanfaat

Cara untuk mendapatkan anak-cucu yang sholeh adalah tidak ada cara lain, kecuali mengakrabkan dengan alQuran (mencintai).

 

II.            Mencintai alQuran

  1. Mengimani
  2. Mengamalkan
    1. Mengubah kesolehan individual ke kesolehan social
    2. Contoh: KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) mengamalkan surat alMaun.
    3. Membaca terus menerus (membaca dengan mushaf maupun tanpa mushaf (hafal))
    4. Tadzabur alQuran
    5. Menyebar & mendakwahkan
      1. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang mempelajari alQuran dan Mengajarkannya kepada orang lain”.
      2. Menyebarkan isinya
      3. Mengajarkan kepada anak cucunya
        1. Hadist “Didiklah anak-anak kamu sedini mungkin dengan ajaran Islam, melalui 3 hal:
          1. i.      Mencintai Nabinya
          2. ii.      Mencintai Keluarganya
          3. iii.      Membacakan dan ajarkan alQuran”.

 

III.            Peranan Orang Tua

  1. Mengajarkan alQuran
    1. a. Siapa yang mengajarkan ?                            oleh orang tuanya
    2. Bagaimana mengajarkannya ?
      1. i.      Mengenalkan cara membacanya
      2. ii.      Memperdengarkannya dan membacakannya
  2. Sampai kapan mengajarkannya?               Sampai meninggal dunia
  3. Memberikan contoh kongkrit
  4. Membangun lingkungan
  5. Nasihati terus menerus
    1. Kemuliaan kalau akrab dg alQuran
    2. Kehinaan jika jauh dari alQuran
    3. Membangun kebiasaan (orang tua harus kompak)
    4. Memberikan apresiasi
    5. Doa, yang terpenting adalah doa untuk kemulyaan akhirat.
      1. Inti ibadah adalah Doa
      2. Doa kemuliaan akhirat:
        1. i.      Khusnul khotimah
        2. ii.      Dibebaskan siksa kubur
        3. iii.      Perlindungan pada hari Makhsar
        4. iv.      Dimudahkan Hisab
        5. v.      Dan dimasukkan Syurganya Allah SWT.
  6. Doa Duniawi:
    1. i.      Tangible:
      1. Materi
      2. ii.      Intangible:
        1. Keselamatan
        2. Ketentraman
        3. Kebahagiaan

 

Demikian, Semoga Allah merahmati kita semua, Amin.

 

Comments: Leave a Comment

Qodlo dan Qodar (Takdir) by Ust Edi Chandra

Beriman Qodlo-Qodar (Aqidah)

Category: Aqidah

Ustadz: Edi Chandra

Summarized by: Joko SP

Masjid Baitussalaam, Bogor, 11 Mei 2011.

Beriman kepada Qodlo dan Qodar, adalah termasuk beriman pada yang Ghoib

 

Definisi

Qodlo, dalam bahasa arab berarti merencanakan atau menentukan (ilmu).

Qodar, berarti terlaksananya atas sesuatu yang sudah ditentukan (realisasi).

 

Contoh keliru dalam memahami Qodlo & Qodar: “Memang sudah takdir saya, bahwa saya memang harus hidup miskin”.

Bagaimana memahami Qodlo&Qodar ?

Ada dua kelompok, yang berbeda pendapat mengenai pemahaman QODLO & QODAR tersebut:

  1. Kelompok Jabariah: Apapun yang terjadi pada diri manusia semua itu adalah perbuatan/kehendak Allah, tanpa sedikitpun peran manusia di dalamnya.

Hal yang mendasari pernyataan tersebut adalah:

  1. Dalil, “La Khaula kuwata illa billah”
  2. Hadist 40, Dalam masa penciptaan manusia telah di tuliskan umur, bahagia/sengsara hidupnya, rizki, dsb.
  3. Perkataaan, “kalau sudah rizki tidak akan kemana….”

 

  1. Kelompok Qodariah: Manusia mempunyai peran dalam menentukan keputusan/perbuatan yang diambil.

Terkait dengan masalah keimanan, kelompok Qodariah tidak setuju dengan pernyataan kelompok Jabariah sebagai berikut:

  1. Apabila iman dan ke-kufuran itu sudah ditentukan oleh Allah, maka apalah artinya harus ada dakwah? Apa artinya Nabi di utus?

 

  1. Apabila iman dan ke-kafiran itu sudah ditentukan oleh Allah, maka apalah artinya Pahala dan Dosa?

 

Anekdot seorang ulama:  Bisa saja Iblis akan protes, mengapa Allah menjadikan mereka membangkang, kenapa tidak dijadikan saja malaikat.

Perdebatan masalah QODLO & QODAR oleh Jabariah & Qodariah ini tidak pernah berujung, yang menjadi masalah adalah perdebatan ini tidak membawa manfaat (tidak membawa perubahan perbuatan).

 

Seharusnya Iman berbuah perilaku (bahagia)

 

Imam Ali Tontowi mencoba member solusi, menyatakan bahwa, dalam diri manusia ini ada unsur Jabari dan unsur Qodari.

Contoh:

-          Seseorang memiliki kebebasan yang diberikan oleh Allah untuk menggerakan tangan, berbuat baik/buruk, dsb. adalah Qodariah.

-          Seseorang tidak memiliki kuasa untuk memilih/menggerakkan, inilah unsur Jabariah dalam diri manusia.

Pahala dan Dosa hanya terpaut pada wilayah kebebasan berkehendak (Qodariah), dan tidak masuk pada wilayah Jabariah.

 

Bagaimana keimanan kepada takdir membimbing kita menjadi bahagia?

Cara yang mudah memahami takdir itu adalah:

Qodlo, adalah benar apa yang pada Ilmu Allah.

contoh Takdir Allah adalah Keadilan Allah.

Hadist: Miskin karena malas, adalah berdosa

Jangan pernah menduga/menjangkau ilmu Allah SWT

Takdir adalah yang bisa diketahui melalui hal yang dirasakan oleh manusia sampai saat ini, dan untuk nanti dan esok hari adalah sesuatu yang masih bisa diupayakan oleh manusia.

Ilustrasi:

Ibarat kita lahir ke dunia itu seperti kita memasuki gua yang gelap, kita harus terus maju sesuai bertambahnya usia kita, sedangkan modal kita hanyalah lilin. Cahaya lilin tidak akan jauh menerangi jalan kita di depan, sedangkan Allah hanya memberi petunjuk melalui AKAL dan WAHYU, untuk mengambil keputusan.

Dari ilustrasi di atas, manusia hanya diminta mempertanggungjawabkan atas jalan dan keputusan yang diperoleh atas AKAL dan WAHYU tersebut, tidak harus mempertanggungjawabkan jalan yang belum dilalui.

Apabila sudah datang takdir, HARAM untuk ber-andai-andai, bila hal itu tidak dilakukan maka kejadian itu tidak terjadi.

Dan janganlah seperti pernyataan orang munafik pada perang Uhud, yang menyatakan bahwa “seandainya sahabat nabi tidak ikut berperang, pastilah mereka masih hidup”, pernyataan itu hukumnya dalah haram.

Kita tidak boleh menyalahkan/berandai-andai masa lalu, akan tetapi kita masih punya kesempatan berbuat di masa depan. Apabila sudah diusahakan sebaik mungkin, tetapi hasilnya masih belum seperti yang kita harapkan, maka hukum QODLO & QODAR berlaku, yaitu kita menerima apa yang sudah kita capai dan rasakan sampai saat ini, sedangkan sisanya tetap milik Allah yang tahu.

Bukan tugas kita untuk mengetahui/menjangkau Ilmu Allah tentang Takdir diri kita

Contoh:

Dalam menyikapi suatu hadist, yang intinya Jangan mengira bahwa orang yang telah berperilaku sebagai ahli surga, Allah pasti akan memasukkan mereka ke dalam surga, dan sebaliknya, berarti jangan-jangan apa-apa yang sudah kita lakukan akan menjadi sia-sia ?

JANGANLAH PERNAH kita pernah menduga atau berandai-andai pada wilayah ILMU ALLAH, yang harus kita lakukan adalah berusaha sampai pada batas kemampuan kita. Disinilah muncul sikap TAWAKAL: “Ya Allah inilah sebatas yang bisa saya lakukan, lebih dari itu Engkaulah yang Maha Mengetahui”.

 

Semoga Allah merahmati kita semua, Amin.

 

Comments: Leave a Comment

Akidah-Fitrah Manusia by ust. Ahmadi

Ceramah Ahad, masjid Baitussalaam Bogor, mengenai Akidah oleh ust. Ahmadi.

Link: 091004_006Ahmadi.mp3

Comments: Leave a Comment

Tentang Surga

Keberadaan Surga

Keberadaan surga ditunjukkan dengan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dari al-Qur’an, di antaranya adalah firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. An-Najm: 13-15)

Disebutkan di dalam as-Shohihain (riwayat al-Bukhori dan Muslim) dari hadits Anas rodhiyAllohu ‘anhu dalam kisah Isro’ Mi’roj bahwa Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam melihat Sidrotil Muntaha dan melihat di sisinya ada Jannatul Ma’wa. Beliau bersabda,

“Kemudian Jibril membawaku pergi hingga berhenti di Sidrotil Muntaha, maka Sidrotil Muntaha itu diliputi warna-warni yang aku sendiri tidak mengetahui apa itu. Lalu beliau bersabda, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya bertahtakan mutiara dan debunya terbuat dari misik.” (HR al-Bukhori dan Muslim)

Dan di dalam riwayat lain dari Ibnu Umar rodhiyAllohu ‘anhu, Rasululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila mati maka akan diperlihatkan kepadanya tempat kembalinya setiap pagi dan sore. Kalau diperlihatkan bahwa dia termasuk penghuni neraka, maka dia akan menjadi penghuni neraka. Dan Jika diperlihatkan sebagai penghuni surga, maka dia akan menjadi penghuni surga. Lalu dikatakan, “Inilah tempatmu hingga Alloh membangkitkanmu pada hari Kiamat.” (HR al-Bukhori dan Muslim)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa surga adalah makhluk Alloh subhanahu wata’ala yang telah diciptakan, sebagaimana pula dengan neraka. Maka orang yang menyelisihi keyakinan ini adalah termasuk ahli bid’ah, seperti mu’tazilah yang mengatakan bahwa surga belum diciptakan, tetapi baru diciptakan pada hari Kiamat kelak.

Pintu-Pintu Surga

Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Robbnya dibawa ke surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya” (QS. Az-Zumar: 73)

Di dalam ayat ini Alloh subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa surga memiliki pintu-pintu, sebagaimana juga neraka. Dan pintu-pintu surga apabila nanti telah terbuka, maka akan terus dibiarkan terbuka tidak sebagaimana pintu neraka, ia akan ditutup rapat sebab neraka merupakan penjara. Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka.” (QS. Shod: 49-50)

Adapun neraka, maka tidak demikian, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala,

“(Yaitu) api (disediakan) Alloh yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.” (QS. Al-Humazah: 6-8)

Rahasia di balik terbukanya pintu surga bagi para penghuninya adalah karena mereka dapat mondar-mandir, datang dan pergi ke mana saja sesuka mereka. Dan yang ke dua adalah karena malaikat masuk ke dalam surga setiap waktu dengan penuh sikap lembut dan ramah. Ini menunjukkan bahwa surga merupakan tempat aman dan kedamaian yang tidak butuh untuk dikunci (ditutup) pintunya.

Di dalam sebuah hadits, Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Di dalam surga terdapat delapan pintu, salah satunya sebuah pintu yang disebut dengan “ar-Royyan”. Tidak memasuki pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa.”

Di Manakah Surga Berada?

Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (QS. An-Najm: 13-15)

Ayat ini menunjukkan bahwa surga itu berada di atas langit, karena Sidrotil Muntaha berada di atas langit. Dan juga firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzaariyaat:22)

Imam Mujahid berkata, “Yang dimaksudkan adalah surga.” Dan Ibnu Abbas rodhiyAllohu ‘anhu juga berkata, ” Surga itu berada di atas langit yang ke tujuh.”

Kunci Surga

Rasululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Kunci Surga adalah persaksian tiada ilah yang berhak disembah kecuali Alloh.” (HR Ahmad 5/242). Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih, “Bukankah kunci surga itu adalah kalimat la ilaha illAlloh? Maka dia menjawab, ” Ya, akan tetapi tiadalah suatu kunci itu kecuali dia mempunyai gigi-gigi. Jika engkau datang dengan kunci yang bergigi, maka surga akan terbuka, jika tidak, maka tidak akan terbuka. Beliau memaksudkan dengan gigi di sini adalah rukun-rukun Islam.

Jalan Menuju Surga

Jalan menuju surga telah disepakati oleh para rosul dari awal hingga akhir hanyalah satu. Sedangkan jalan ke neraka amatlah banyak tidak terhitung. Oleh karena itu Alloh subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa jalan yang lurus itu hanyalah satu dan menyebutkan jalan kesesatan adalah banyak. Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al an’am: 153)

Dan Ibnu Abbas rodhiyAllohu ‘anhu pernah berkata, “Rasululloh shollAllohu ‘alaihi wasallam membuatkan kami sebuah garis lurus lalu bersabda, “Ini adalah jalan Alloh“. Kemudian beliau membuat banyak garis di sebelah kanan dan kirinya lalu bersabda, “Ini adalah jalan-jalan, dan pada setiap jalan itu terdapat syetan yang menyeru ke sana.” Lalu beliau membacakan ayat tersebut di atas.

Tingkatan Surga

Surga memiliki tingkatan-tingkatan, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,

“(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Alloh, dan Alloh Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imron: 163)

Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Robbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfaal:4)

Tingkatan surga tertinggi adalah surga Nabi Muhammad shollAllohu ‘alaihi wasallam yaitu “Al Wasilah” sebagaimana dalam hadits riwayat imam Muslim dari Amr bin al-Ash rodhiyAllohu ‘anhu bahwa dia mendengar Nabi shollAllohu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Apabila kalian mendengar muadzin (sedang adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Alloh akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintalah untukku Al-Wasilah, Karena ia merupakan kedudukan di surga yang tidak layak kecuali hanya untuk seorang hamba saja dari hamba-hamba Alloh, dan aku berharap orang itu adalah aku. Barangsiapa yang meminta untukku al-Wasilah maka dia berhak mendapatkan syafa’atku. (HR. Muslim).

Nama-nama Surga

Surga biasanya disebut dengan Jannah, dan inilah nama yang umun digunakan untuk menyebut tempat ini dan segala yang terdapat di dalamnya berupa kenikmatan, kelezatan, kemewahan, dan kebahagiaan. Nama-nama lain dari Surga di antaranya yaitu:

1. Darus Salam

Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,

“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Robbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 127)

Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Alloh subhanahu wata’ala, diambil dari nama Alloh “as-Salam”. Alloh subhanahu wata’ala pun mengucapkan salam atas mereka,

“Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Robb Yang Maha Penyayang.” (QS. Yaasiin: 57-58)

2. Jannatu ‘adn

Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,

“(Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24)

3. Jannatul Khuld

Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain. Alloh subhanahu wata’ala berfirman, artinya,

“Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan: 15)

4. Darul Muqamah

Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala, artinya,

“Dan mereka berkata:”Segala puji bagi Alloh yang telah menghilangkan duka cita dari kami.Sesungguhnya Robb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. Faathir: 34-35)

5. Jannatul Ma’wa, al-Ma’wa artinya adalah tempat menetap sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala dalam surat an-Najm di atas. Disebut demikian karena surga merupakan tempat menetapnya orang-orang mukmin.

6. Jannatun Na’im

7. Al Muqamul Amin

*) Sumber: Buku “Biladul Afrah”, Sulaiman bin Shalih al-Khurasyi, Gambaran surga secara ringkas dari kitab “Hadil Arwah” Imam Ibnul Qayyim.

Comments: Leave a Comment